Beritain.co | Kota Depok – Toegoe Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia adalah tugu pertama yang dibangun di Taman Proklamasi. Diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1946 oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir pada masa pendudukan sekutu . Tugu peringatan itu berbentuk obelisk kecil, dengan tulisan “Atas Oesaha Wanita Djakarta” (“dengan usaha para wanita Jakarta”), penggambaran naskah kemerdekaan Indonesia, dan peta Indonesia. Tak lama kemudian, tugu itu berganti nama menjadi Tugu Proklamasi.
Gambar Tugu ini sempat menjadi logo Kota Jakarta sebelum digantikan gambar Monas. Tugu Proklamasi digagas oleh beberapa tokoh perempuan Indonesia antara lain Yos Masdani Tumbuan, Mien Wiranatakusumah, Zus Ratulangi (putri Sam Ratulangi), Zubaedah, dan Ibu Gerung (Ibunda Rocky Gerung).

Sketsa tugu peringatan itu dibuat oleh Kores Siregar, mahasiswa Institut Teknologi Bandung . Pembangunannya dimulai pada Juli 1946. Menjelang peresmian tugu itu pada pertengahan Agustus, Wali Kota Jakarta Suwiryo menolak meresmikan tugu itu karena alasan keamanan. Pada waktu pelantikan yang diusulkan, sekutu telah menduduki Jakarta dan ada kekhawatiran bahwa sekutu akan memulai pembantaian serupa dengan pembantaian Amritsar di India.
Terlepas dari kekhawatiran yang dirasakan, perempuan penggagas pembangunan Tugu Proklamasi memutuskan untuk menghubungi Perdana Menteri Sutan Sjahrir pada sore hari tanggal 16 Agustus 1946 untuk memimpin peresmian tugu tersebut. Sutan Sjahrir bersedia memimpin peresmian sehingga ia terbang ke Jakarta dari Yogyakarta untuk meresmikan tugu tersebut. Tidak ada konflik yang terjadi selama peresmian tugu peringatan tersebut. Pada tanggal 14 Agustus 1960, surat kabar Keng Po memberitakan bahwa Angkatan ’45 (Generasi 45) menginginkan Tugu Proklamasi, yang disebut “Tugu Linggarjati”, dimusnahkan.

Menyusul laporan itu, Presiden Soekarno memerintahkan pembongkaran Tugu Proklamasi dan Gedung Proklamasi pada sore hari tanggal 15 Agustus 1960. Keadaan menjadi aneh karena Perjanjian Linggardjati diparaf pada tanggal 15 November 1946 dan ditanda tangani pada tanggal 25 Maret 1947, sedangkan Tugu Proklamasi diresmikan pada tanggal 17 Agustus. 1946. Menurut Yos Masdani, saat itu Partai Komunis Indonesia memiliki kekuatan yang signifikan untuk mengubah sejarah.
Setelah pembongkaran tugu peringatan, tiga lempengan marmer dari tugu asli diberikan kepada Jos Masdani sebagai tugu peringatan. Pada tahun 1968, Gubernur Jakarta Ali Sadikin mengajukan usul untuk membangun kembali tugu peringatan asli yang pernah dibongkar oleh Presiden Sukarno pada tahun 1960. Usulan ini disetujui dan pada 17 Agustus 1972 Tugu Proklamasi diresmikan kembali di lokasi semula. Pelantikan dihadiri banyak tokoh masyarakat dan politik, di antaranya mantan Wakil Presiden Hatta.
