PRA ISLAM DI NUSANTARA ITU BUKAN HINDU/BUDDHA

#CatatanRedaksi

Beritainditco | Kota Depok – Perhatikan baik baik, ini artikel berisi kajian akademik

Bahwa kerajaan “Pra lslam” juga situs situs di Nusantara tidak berdasar pada “Hindu/Buddha” tapi ajaran yang tergambar di situs juga ajaran yang di anut Raja raja dan leluhur Nusantara adalah yang mendasari lahirnya ajaran Hindu/Buddha di india…

“Hinduisme”,ini adalah peleburan atau sintesis dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India,Pangkalnya “Brahmanisme” ajaran Weda Kuno atau berbasis “Vedic” yang di bawa kaum Saka/Cakya/Çaka/Aryān

Para ilmuwan mencatat sintesis tersebut muncul sekitar 500–200 SM di india,dengan pangkal yang beragam dan tanpa tokoh pendiri tumbuh berdampingan dengan Buddhism hingga abad ke-8,dari India Utaran “Sintesis Hindu” ini tersebar ke selatan

Akhir abad ke-18 seterusnya orang Inggris menyebut penduduk ‘Hindustan’, yaitu bangsa di sebelah barat daya India dan ‘Hindu’ menjadi istilah padanan bagi ‘orang India’ yang bukan Muslim,bukan Sikh,bukan Jaina,bukan Kristen,bukan Buddha,mencakup berbagai penganut dan pelaksana kepercayaan tradisional yang berbeda-beda

Istilah ‘Hindu’ sebagai antonim terhadap keyakinan lain….kemudian kata ‘Hindu’ dengan tambahan akhiran ‘-isme’ ditambahkan sekitar tahun 1830-an untuk merujuk pada kebudayaan dan “Agama”,istilah tersebut diterima oleh orang India sendiri dalam hal membangun jati diri bangsa untuk menentang kolonialisme

“Hindu” sebagai tempat berhimpunnya aneka tradisi yang koheren dan independen,didukung oleh “Sanskritisasi” abad ke-19 di bawah dominansi kolonialisme Barat serta Indologi,mulai saat ini istilah “Hinduisme” dipakai secara luas….

Çaka adalah kaum leluhur Nusantara,tertulis pada relief dasar Vhwãnã Çakã Phãlã/Borobudur dengan teks literasi kata Māhéçãkyã ,Bangsa Çãkyã/Şàkyà/Schytia/Saka,Aryān yang Agung,Kaum “Çaka”sudah ada lebih dahulu jauh dari 78 M dari saat menaklukan Raja “Salivahana” india,Angka tahun 78 M ini yang di salah tafsirkan untuk menghitung awal tahun Saka di prasasti

Berbagai praktik budaya baru seperti ritual pengorbanan yang semuanya membentuk dasar budaya “Hindu/Veda” awal,dasar nya adalah Ajaran leluhur kita “Dharmic” adalah Dharma/Dhamma/Dhamo terekam pada literasi kata Kųsãlädhãrmãbæjănā di figura dasar relief Borobudur

Sangharamā Mahæ Thupa Vhwãnã Çakã Phãlã kini terpublikasi menjadi “Borobudur”,ada 160 panel relief di dasar nya yang tidak di “Expose”,ada 12 kata “Şvãrggã” tertera di figura relief dasar bukan tertulis kata “Nirvana” dan literasi teks kata yang lainnya,Mãhéçãkhya

Literasi kata Mãhéçãkhya (Pigura Panil 43 )
Kata “Mahe” berarti besar atau bangsa yang besar dan kata “SAkya” adalah Kaum Çaka Nusantara,Maheshakhya adalah salah satu kata yang terserap ke bahasa Sansekerta yang juga digunakan dalam kitab – kitab seperti Upanishad ,Veda

Artinya : Ajaran “Hindu”merujuk pada “Agama”di india baru ada sekitar tahun 1830,ini membuktikan secara formil “Hinduisme” india ada setelah era Raja raja Nusantara

Dharmapala (670-580 SM) lahir dalam keluarga bangsawan di Nusantara,Dia adalah murid Dharmadasa,Guru dari Svarnadvipa Dharmakirti di kemudian hari menjadi kepala Universitas Nalanda di Bihar India cabang dari Universitas yang pusatnya di Nusantara Indonesia

Di antara literasi kalimat berdasar referensi tulisan peziarah Tiongkok Faxian 337 – 422 M dan Hiuen Tsiang 602-664 M sbb :

….sebelah barat daya kota 8 atau 9 li adalah sebuah batu yang berdiam di Nāga yang berbisa ,Setelah menundukkan naga ini,Tathāgata meninggalkan bayangannya di sini,tetapi meskipun ini adalah tradisi tempat itu, tidak ada sisa bayangan yang terlihat (Equinox)

Di sampingnya ada stupa yang dibangun oleh rāja, sekitar 200 kaki tingginya.Di dekat ini adalah tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari dan juga stupa,Para murid yang menderita penyakit, dengan berdoa di sini kebanyakan disembuhkan (berjalan ke sana kemari adalah Pradaksina/Prasawiya/Tawaf)

Hukum śākya menjadi punah, ini akan menjadi wilayah terakhir di mana ia akan bertahan; oleh karena itu dari yang tertinggi ke yang terendah semua yang memasuki perbatasan negara ini sangat terpengaruh, bahkan sampai menangis,sebelum mereka kembali

Di sebelah timur laut tempat tinggal Nāga adalah hutan yang luas, setelah melewati sekitar 700 li, kami menyeberangi Sungai “Punai” menuju ke utara kami tiba di kota Kia-she-pu-lo (Kaśapura),Kota ini sekitar 10 li di wilayahnya; penghuninya kaya dan kaya (bahagia)

Di sisi kota adalah saṅghārāma tua, yang dinding pondasinya saja ada.Di sinilah Dharmapāla Bodhisattva membantah argumen para bidat.Seorang mantan raja negara ini, karena sebagian dari ajaran bidat, ingin menggulingkan hukum “Dhamma”, sementara ia menunjukkan rasa hormat terbesar kepada orang-orang itu,Suatu hari ia memanggil dari kalangan bidat seorang master śāstras, yang sangat terpelajar dan talenta-talenta superior, yang dengan jelas memahami doktrin-doktrin pandangan baru nya

Dharmapāla Bodhisattva telah menyusun sebuah karya dalam seribu ślokas, yang terdiri dari tiga puluh dua ribu kata. Dalam karya ini ia menentang dan melawan yang memfitnah hukum “Dhamma” yang di dapat saat dipelajari dari pendidikan di sini sebagai ajaran “Ortodoks”(Dharmic Original,kitab kitab ini di kemudian hari di bawa ke Tibet)

Karenanya (raja) menyadarkan para imam (Buddhis), dan memerintahkan mereka untuk membahas pertanyaan yang sedang diperselisihkan, menambahkan bahwa jika para bidat menang, ini akan menghancurkan hukum “Dhamma”

Dharmapāla Bodhisattva, meskipun berusia muda,telah memperoleh kemasyhuran yang luas untuk penetrasi dan kebijaksanaan, dan reputasi karakter mulianya jauh tersebar

Dia sekarang berada di majelis dan berdiri, dengan kata-kata yang menyemangati berbicara kepada mereka sebagai berikut: “Meski saya bodoh, namun saya meminta izin untuk mengucapkan beberapa patah kata”

Sesungguhnya saya siap untuk segera menjawab panggilan raja dalam berargumen (wacana) Saya akan mendapatkan kemenangan, ini akan membuktikan perlindungan spiritual, saya sudah terlatih sejak masa muda saya dalam pendidikan

Dharmapāla Bodhisattva,berkata sambil tersenyum, “Saya penakluk..! Saya akan menunjukkan bagaimana dia menggunakan argumen palsu dalam menganjurkan doktrin sesatnya,dalam mendesak ajarannya yang salah “

Tulisan diatas berdasar kalimat yang di tulis peziarah Tiongkok…

singkatnya …Dharmapala (670-580 SM) pada masa nya,Beliaulah cendikia yang cerdas melawan dan meruntuhkan beberapa pandangan baru terhadap “Dhamma”…inilah ajaran leluhur Nusantara yang oleh sejarawan eropa menyebut dengan “Dharmic” yaitu “Dharma” di tempat asal nya di Svarnadvipa terekam dalam nama suku “Dhommo”,Piliang (Pilihan Hyang/Tuhan),Patopang (Per-Tapa-an),Can-Yago (Yoga/Samadhi/Tapo)

Lokasi nya terekam dalam catatan tiongkok oleh Faxian 337 – 422 M dan Hiuen Tsiang 602-664 M dan dalam teks kalimat
…..Tathāgata meninggalkan bayangannya di sini,tetapi meskipun ini adalah tradisi tempat itu, tidak ada sisa bayangan yang terlihat….

…stupa 200 kaki tingginya di dekat ini adalah tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari,….adalah situs “Muara Takus” di mana para brahman melakukan ritual “Pradaksina/Prasawiya/Tawaf” gerakan ritual suci memutari objek di area situs..

lokasi yang di maksud Hieun-Tsang
adalah “Equinox” hanya ada di situs Muara takus Kabupaten Kampar Riau Sumatra…bukan di Ceylon Srilangka saat ini juga bukan di Palembang

Palembang bukan tempat pusat ajaran “Buddha”,ini adalah wilayah Vanua/Vatsal/Kerajaan yang menjalankan “Pituah Maklumat” dari mufakatnya para “Datuok” yang berada di pusat nya di wilayah “Seibu Jayo” / Sibu Jayo atau “Seribu Datuok” … yang di kemudian hari disebut dengan kalimat “Srivijaya”

Dari sinilah…..Çhri Janaýasã / “Dapuntha Hyang” abad ke 6 tahun ke 4 hari ke 11 melakukan “Siddhayatra”/Perjalanan suci membawa “Dharma” bersama Para alumni wisudawan Universitas “Dharmapala”,ini lokasi yang di lihat Fa- Huan/ Faxian 337 – 422 M s/d I-Thsing 635-713 M

“Dapuntha Hyang” ….pergi kearah Utara juga ke Barat dengan 2.213 orang ….hal ini pula yang di lakukan Rshi Mārkaṇḍeya sampai ke Bali….disini tersimpan sempurna ajaran leluhur bangsa Nusantara “Dharmic Original”

Jadi…. kerajaan “Pra lslam” juga situs situs di Nusantara tidak berdasar pada “Hindu/Buddha” tapi ajaran yang tergambar di situs juga ajaran yang di anut raja dan leluhur Nusantara yang hingga kini tersimpan sempurna di Bali adalah yang mendasari lahirnya ajaran Hindu/Buddha di india…ini fakta akademik

Catatan :
Merujuk pada literasi catatan perjalanan Pelajar Tiongkok Hiuen Tsiang 602-664 M dan Faxian 337 – 422 M terjemahan M. Abel Remusat, “Revu,Nouveaux Klaproth et Landress ”(Paris, 1836)Samuel Beal (London, 1869),Trubner’s Oriental Series, 1884) Herbert A. Giles, dari Layanan Konsuler HM di Cina (1877) “Fa-hsien Bhs Inggris,” oleh Mr. T. Watters, Konsul Inggris di I-Chang (China Review, 1879, 1880)

INDONËSIARYĀ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *