PENGABURAN SEJARAH DENGAN LABELING CANDI HINDU/BUDDHA

#Catatan #Redaksi #Beritaindotco

Beritaindotco | Kapan dan siapa misionaris Hindu/Buddha sebelum masa Pra Islam yang datang ke Nusantara..?

Parah dan buruk nya pencatatan sejarah Nusantara Indonesia di awali dengan sepakatnya kita menghitung awal tahun saka di prasasti di mulai tahun 78 Masehi,ini menjadikan sejarah kita hilang sebelum tahun itu…

Kemudian kita mengamini pelabelan semua situs situs berdasar pada ajaran Hindu/Buddha…tanpa analisa dan kajian akademik berdasar penelitian…

● Penelitian oleh Corn de Groot 1858 terhadap Situs “Muara Takus” ia melaporkan pada tahun 1859 dan menuliskannya dalam jurnal tahun 1860,Beliau meneliti situs kemudian menyimpulkan tanpa melabel ini Hindu/Buddha

● G. du Rij van Beest Holle 1879
Tulisannya berjudul “Beschrijving van de Hindoe Oudheden te Moeara Takoes, XII Kotta Kampar” ,Beest Holle me “Labeling” ini Hindu

● WP. Groeneveldt, pada tahun 1879-1880,Tidak menyebut situs Moeara Takoes berdasar atau me “Labeling” ini Hindu/Buddha

● R.D.M Verbeck dan E. TH.Van Delden,1881
Dengan tulisan “De Hindoe Ruinen bij Moeara Takoes ann de Kampar rivier”….me “Labeling” ini Hindu

● J.W. IJzerman 1889-1893,melakukan penelitian yang dituangkan dalam dalam tulisan : “Beschrijving Van die Boeddhistische Bouwwerken te Moeara Takoes Padang” menyebut atau me “Labeling” ini Buddha

● N.J. Krom 1912,1923 menulis tentang Muara Takus pada tahun 1923 berjudul “Hindoe-Javaansche Kunst”, me “Labeling” Moeara Takoes ini Hindu

● J.L. Moens di tahun 1924 dalam tulisannya “Het Buddhisme op Java en Sumatra in zijn laatste bloeiperiode”,me “Labeling” Moeara Takoes ini Buddha

● F.D.K. Bosch 1925,1930,1946, Bosch Moeara Takoes me “Labeling” ini Hindu

● F.M. Schnitger April 1935 Schnitger menulis dan me “Labeling” Moeara Takoes ini Hindu

● EJ. Brill, 1936.menyebut situs Moeara Takoes berdasar atau me “Labeling” ini Hindu

● Johannes Gijsbertus Hans Casparis,”Filolog” Belanda tahun 1954 menulis di desertasinya bahwa Borobudur di bangun pada perkiraan tahun 824 Masehi,Angka tahun yang di sebut adalah angka tahun “Perkiraan” ,..hanya dengan melihat “Ada” nya arca dengan bentuk orang duduk bersila…situs ini di sebut “Buddha
…situs yang tidak ada patung orang duduk bersila di sebut “Hindu” …Prambanan Hindu maka Mendut otomatis Buddha dan jika situs berdampingan “Toleransi”…?

Dari semua penelitian Kolonial Belanda diatas tampak tidak “Konsisten” terhadap apa yang mereka labelkan kepada objek situs apakah Hindu/Buddha….?

Kapan dan Siapa “Misionaris” india ke Nusantara,Hingga situs situs & Kerajaan Pra Islam di sebut Hindu/Buddha…..?

Tidak ada jawabannya,Karena memang tidak pernah ada…ini hanya “Labeling”

Telaah dan kajian akademik untuk menjawab pertanyaan di atas :
“Hinduisme”,ini adalah peleburan atau sintesis dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India,Pangkalnya “Brahmanisme” ajaran Weda Kuno atau berbasis “Vedic” yang di bawa kaum Saka/Cakya/Çaka

Kaum Çãkyã/Şàkyà/Schytia/Arya 2000 SM,Çaka adalah kaum leluhur Nusantara,tertulis pada relief dasar Vhwãnã Çakã Phãlã/Borobudur dengan teks literasi kata Māhéçãkyã ,Bangsa Çãkyã/Şàkyà/Schytia/Saka,Aryān yang Agung,Kaum “Çaka” sudah ada lebih dahulu jauh dari 78 M dari saat menaklukan Raja “Salivahana” india

Mãhéçãkhya (Pigura Panil 43 )
Kata “Mahe” berarti besar atau bangsa yang besar dan kata “SAkya” adalah Kaum Çaka Nusantara,Maheshakhya adalah salah satu kata yang terserap ke bahasa Sansekerta yang juga digunakan dalam kitab – kitab seperti Upanishad ,Veda

Berbagai praktik budaya baru seperti ritual pengorbanan yang semuanya membentuk dasar budaya “Hindu/Veda” awal,dasar nya adalah Ajaran leluhur kita “Dharmic” adalah Dharma/Dhamma/Dhamo terekam pada literasi kata Kųsãlädhãrmãbæjănā di figura dasar relief Borobudur

Vhwãnã Çakã Phãlã kini terpublikasi menjadi “Borobudur”,ada 160 panel relief di dasar nya yang tidak di “Expose”,ada 12 kata “Şvãrggã” tertera di figura relief dasar bukan tertulis kata “Nirvana” dan literasi teks kata yang lainnya,membuktikan ini bukan Buddha atau Hindu

“Hinduisme”,para ilmuwan mencatat sintesis tersebut muncul sekitar 500–200 SM di india,dengan pangkal yang beragam dan tanpa tokoh pendiri tumbuh berdampingan dengan Buddhism hingga abad ke-8,dari India Utaran “Sintesis Hindu” ini tersebar ke selatan

Akhir abad ke-18 seterusnya orang Inggris menyebut penduduk ‘Hindustan’, yaitu bangsa di sebelah barat daya India dan ‘Hindu’ menjadi istilah padanan bagi ‘orang India’ yang bukan Muslim,bukan Sikh,bukan Jaina,bukan Kristen,bukan Buddha,mencakup berbagai penganut dan pelaksana kepercayaan tradisional yang berbeda-beda

Istilah ‘Hindu’ sebagai antonim terhadap keyakinan lain….kemudian kata ‘Hindu’ dengan tambahan akhiran ‘-isme’ ditambahkan sekitar tahun 1830-an untuk merujuk pada kebudayaan dan “agama”,istilah tersebut diterima oleh orang India sendiri dalam hal membangun jati diri bangsa untuk menentang kolonialisme

“Hindu” sebagai tempat berhimpunnya aneka tradisi yang koheren dan independen,didukung oleh “Sanskritisasi” abad ke-19 di bawah dominansi kolonialisme Barat serta Indologi,mulai saat ini istilah “Hinduisme” dipakai secara luas….

Artinya : Ajaran “Hindu”merujuk pada “Agama”di india baru ada sekitar tahun 1830,ini membuktikan secara formil “Hinduisme” india ada setelah era Raja raja Nusantara …jadi situs situs dan kerajaan di Nusantara lebih dulu ada dari “Hindu” atau bukan berdasar pada “Hindu”

Kemudian…Belanda telah berperan meng “india” kan Bali,mendatangkan orang india ke Bali,meng”Kasta”kan Bali thn 1910 karena pengaruh inilah banyak orang Bali thn 1930 pergi ke india,Intelektual dan akademisi Bali berkesimpulan Bali lebih “Sempurna”,Begitu juga Pilosof Rabindranath Tagore

“Agama” di Bali pada awalnya bernama “Agama Tirta” kemudian menjadi “Hindu Bali”,nama ini baru di “Tempel” tahun 1950…….dan tidak ada dicatatan sejarah masa Pra Islam,misionaris “Hindu India” ke Nusantara,Karena ada peraturan tidak tertulis bahwa orang suci Hindu india tidak menyebarkan nya ke luar india

Rshi Mārkaṇḍeya adalah putra Nusantara bukan dari India,ini tertulis dalam sloka “Bhwana Tatwa” tentang Maharsi Mārkaṇḍeya lengkap dengan silsilah nya,Beliau menciptakan sistim irigasi “Subak” …adakah catatan silsilah Mārkaṇḍeya lengkap di india dan subak di sana…?

Di Nusantara pada abad 4 M sampai dengan 7 M,Tidak tercatat misionaris india “Buddhism” datang ke Nusantara…”Peziarah Tiongkok” yang datang ke Nusantara adalah untuk “Belajar” dan mencatat ajaran “Dharmic Original” yang telah ada lama di Nusantara,bukan membawa ajaran dari negrinya di sebarkan ke Nusantara…Palembang bukan pusat ajaran Buddhis

Peziarah Tiongkok yang datang ke Nusantara untuk Belajar dan mencatat ajaran dari Nusantara,Kemudian di bawa ke negrinya :
●Fa-Huan 337 – 422 M
●Sung-Yun (2) 518 – 521 M
●Hieun – Tsang 602 – 664 M
●Hui-Ning 664 – 667 M
●I-Tshing 671 – 695 M
● Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna 1013 M

Di kemudian hari terpublikasi nya “Mahayana” di Nusantara..Ketika Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mencetuskan ide mengadakan upacara “Tri Suci Waisak” secara nasional di Borobudur pada 22 Mei 1953…..Dan mulai saat inilah “Terpublikasi” Borobudur menganut ajaran ber aliran “Mahayana”….

Svarnadvipa” Indonesia,bukan india …adalah tempat awal sumber belajar Palsafah Utama Dasar “Dharma/Dhamma” inilah “Dharmic Original” yang tergambar di “Borobudur” tersimpan sempurna di Bali,…

Keduanya bukan dan tidak berdasar pada 2 ajaran yang lahir di india…tapi yang tergambar di “Borobudur” juga situs situs lain dan tersimpan sempurna di Bali yang mendasari lahir dan tumbuh nya 3 ajaran india: Hindu,Buddha dan Jaina…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *