Media Beritain | Kota Depok – Bayangkan sebuah ruangan ber-AC dingin di Jakarta, Mei 1998. Kilatan kamera menyambar-nyambar, menangkap momen yang akan membekukan nadi sejarah bangsa ini. Di sana, berdiri Michel Camdessus, Direktur Pelaksana IMF, dengan tangan bersedekap di atas meja, menatap dengan tatapan yang seolah menghakimi. Di hadapannya, Soeharto pemimpin bangsa menunduk, menandatangani *Letter of Intent*.
Di detik yang sunyi dan mencekam itulah, mimpi besar B.J. Habibie untuk menjadikan Indonesia macan teknologi Asia—dengan IPTN yang membanggakan, program Mobil Nasional, dan visi hilirisasi awal—mati dibunuh secara sistematis. Kita dipaksa menyerahkan kedaulatan ekonomi kita. Dan sebagai gantinya, kita diberi “stabilitas” semu yang dibangun di atas reruntuhan harga diri bangsa.
Hampir tiga dekade berlalu. Dan kini, hantu itu kembali.
Tapi kali ini, ia tidak lagi mengenakan jas formal IMF. Ia tidak lagi membawa dokumen kertas yang memalukan. Hantu itu telah bermutasi. Ia kini berwujud kode biner yang tak kasat mata, *headline* media global yang dingin, dan spekulasi valas yang bergerak dalam kecepatan cahaya.
Kita berada di Juni 2026. Rupiah tertekan menembus batas psikologis, IHSG goyah, dan indeks kepercayaan pasar retak. *The Economist* dan *Bloomberg* kembali memainkan simfoni lama mereka, namun dengan instrumen yang jauh lebih canggih. Narasinya selalu sama, diputar ulang seperti piringan hitam yang rusak: menakut-nakuti pasar global, membingkai kebijakan kedaulatan Presiden Prabowo sebagai “ancaman bagi investor”, dan mendesak kita untuk kembali bersimpuh di depan altar neoliberalisme.
Mereka ingin kita lupa. Mereka ingin kita percaya bahwa menyerahkan nikel, bauksit, tembaga, dan kini, *data digital* rakyat kita kepada korporasi asing, adalah satu-satunya jalan menuju “kemajuan”.
Namun, yang paling menyayat hati bukanlah serangan dari luar, melainkan gema pengkhianatan dari dalam. Saat saya membaca pernyataan segelintir akademisi dan ekonom domestik yang dengan fasih mengulang mantra *Washington Consensus*, darah saya mendidih. Mereka menyebut upaya kita membangun kemandirian digital dan industri hilir sebagai “proyek prestise” atau “populisme ekonomi yang berbahaya”.
Mereka lupa, atau mungkin pura-pura lupa, bahwa tidak ada satu pun negara maju di dunia ini yang lahir dari pasar bebas yang naif. Lihatlah Korea Selatan. Pada 1960-an, mereka lebih miskin dari kita. Tapi mereka memilih jalur kedaulatan: proteksi industri domestik, subsidi masif untuk riset, dan kontrol ketat terhadap modal asing. Mereka membangun Hyundai dan Samsung dari nol, meski dicaci maki dan diancam oleh Barat. Lihatlah Tiongkok. Mereka membuka ekonomi, tetapi tidak pernah melepas kendali atas data, platform, dan infrastruktur strategis mereka.
Tapi dengarkan baik-baik: Hantu 1998 tidak akan menang kali ini.
Kita bukan bangsa yang sama. Kita tidak lagi bergantung pada utang dolar yang mencekik leher. Cadangan devisa kita kuat. Kita memiliki alternatif aliansi strategis di BRICS+ dan Global South yang tidak lagi tunduk pada hegemoni Dolar AS. Dan yang paling penting, kita memiliki kompas moral dan konstitusional yang tidak bisa dinegosiasikan, tidak bisa ditawar, dan tidak bisa dikompromikan: **Pasal 33 UUD 1945.**
Di era digital ini, frasa “bumi, air, dan kekayaan alam” harus dibaca dengan lensa baru. Data adalah minyak baru. Data adalah tanah air digital kita. Dan ia *harus* dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat, bukan dieksploitasi oleh platform asing yang memarkir keuntungannya di surga pajak, sementara kita hanya menjadi “tukang gali” data yang miskin.
Serangan hibrida yang kita hadapi sekarang adalah ujian akhir peradaban. Mereka menguji apakah kita akan kembali menjadi bangsa yang takut pada bayang-bayangnya sendiri, atau bangsa yang berani menatap mata algoritma kolonial dan berkata dengan tegas: *”Cukup. Ini tanah air kami. Ini data kami. Ini masa depan kami.”*
Kita tidak akan membiarkan *Habibie-nomics* versi 2.0 dikubur untuk kedua kalinya. Kita tidak akan membiarkan mimpi kedaulatan teknologi Indonesia hancur oleh *panic selling* yang direkayasa di ruang server New York.
Hantu masa lalu boleh datang mengetuk pintu server kita. Tapi di tahun 2026 ini, kita sudah menyiapkan cahaya untuk mengusirnya. Kita punya kesadaran. Kita punya konstitusi. Dan kita punya keberanian.
Pilihan ada di tangan kita. Akankah kita tetap menjadi bangsa yang terjajah oleh kode yang ditulis orang lain? Atau akankah kita menulis kode kemerdekaan kita sendiri?
Sejarah sedang menonton. Dan kali ini, kita yang akan memegang kendali. (AMM)
