Berfikir Logis Agar Tidak Mudah Tersesat

Media Beritain | Kota Depok – Bayangkan Anda terbangun di dalam sebuah istana yang sangat megah, namun tiba-tiba orang asing datang dan mendiktekan bahwa Anda hanyalah menumpang di sana.

Itulah yang terjadi pada mental kita hari ini. Selama puluhan tahun, buku-buku sekolah mencekoki kita dengan dogma “Indianisasi”.

Kita dipaksa percaya bahwa leluhur kita hanyalah “murid pasif” yang tidak becus membangun peradaban tinggi tanpa bantuan asing.

Kita diajarkan bahwa sejarah baru dimulai saat kalender Saka masuk di tahun 78 Masehi. Tapi, benarkah leluhur kita semiskin itu dalam hal ilmu pengetahuan…?

Mari kita bedah satu fakta ilmiah mengejutkan yang selama ini disembunyikan dari kita.

Ingat pelajaran tentang “Prasasti Kedukan Bukit” yang mencatat perjalanan suci “604 Saka”…?

Oleh sejarawan kolonial, angka ini langsung dikonversi begitu saja menjadi “682 Masehi” dengan rumus sederhana ditambah 78.

Namun di sinilah letak keanehan yang gila. Berdasarkan data klimatologis historis, tahun “682 Masehi” adalah puncak musim kemarau ekstrem di wilayah Sumatra Selatan.

Bagaimana mungkin armada kapal raksasa yang membawa “20.000 tentara” bisa berlayar dengan bebas jika Sungai Musi saat itu sedang kering kerontang dan mendangkal…?

Logika sains mana yang bisa menerima konversi paksa ini..?

Ini adalah bukti empiris bahwa sistem penanggalan kita jauh lebih mandiri dan selaras dengan alam.

Leluhur kita tidak pernah mengekor sistem asing.

Nusantara sudah lama memiliki kalender astronomi matahari sendiri bernama “Pranata Mangsa” dan konsep waktu “Surya Sengkala” Jawa kuno.

Sistem ini membagi waktu harian secara konstan dalam “16 taběh”, sangat berbeda dengan sistem “muhurta” dinamis milik India.

Bahkan, mahakarya agung yang hari ini kita sebut “Borobudur” sesungguhnya memiliki nama asli “Vhwana Caka Phala”.

Sebuah monumen sains raksasa pelacak galaksi yang dibangun menggunakan teknik “interlocking” atau kuncian “ekor burung”.

Jutaan batu andesitnya disatukan tanpa semen setetes pun, membuatnya elastis dan tahan gempa selama ribuan tahun.

Teknologi sipil serumit ini bahkan tidak akan Anda temukan pada stupa-stupa di India pada periode yang sama..!

Lantas, siapa sebenarnya yang diuntungkan jika kita terus dibuat amnesia dan merasa kerdil di hadapan bangsa lain..?

Jangan biarkan memori kolektif kita terus dijajah oleh dogma usang. Sudah saatnya kita menatap sejarah secara jujur, cerdas, dan akademis.

Bagaimana pendapat Anda…?

Apakah Anda rela sejarah kebesaran nenek moyang kita terus dikubur dalam dogma? Mari diskusikan di kolom komentar, dan jangan lupa bagikan tulisan ini agar lebih banyak anak muda yang merdeka secara berpikir..!

INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia
Exploration & Research
By :Santosaba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *