Sumber Sejarah Kematian “Sri Krtanagara”

Beritaim.co | Kota Depok.- Banyak yang sudah tahu kisah runtuhnya Kerajaan Singhasāri (Tumapĕl), yaitu Śrī Kṛtanagara tewas diserang bawahannya sendiri, bernama Śrī Jayakatwang pada 1292. Namun, ketika ditanya sumbernya dari mana? Mungkin hanya sebagian saja yang bisa menjawab dengan tepat.

Jadi begini, sumber yang menyebut Śrī Kṛtanagara meninggal pada 1292 adalah prasasti Singhasāri (27 April 1351). Dalam prasasti itu terdapat kalimat:

  • i śaka 1214 jyeṣṭamāsa, irika diwaśani kamoktan pāduka bhaṭāra sang lumah ring śiwabuddha.
    = Pada Śaka 1214, masa Jyeṣṭa, itulah saat berpulangnya Pāduka Bhaṭāra yang berbaring di Śiwa-Buddha.

Pāduka Bhaṭāra Sang Lumah ring Śiwa-Buddha adalah nama anumerta Śrī Kṛtanagara. Hal ini dapat kita temukan dalam naskah Pararaton yang kalimatnya berbunyi:

  • sirāji kṛtanagara añjĕnĕng prabhu, abhiṣeka bhaṭāra śiwabuddha.
    = beliau Aji Kṛtanagara menjabat sebagai prabhu, bergelar Bhaṭāra Śiwa-Buddha.

Kembali pada prasasti Singhasāri, disebutkan bahwa Śrī Kṛtanagara meninggal pada tahun Śaka 1214, masa Jyeṣṭa. Apabila kita konversi ke dalam kalender Masehi, maka masa tersebut berada di antara bulan Mei-Juni tahun 1292.

Prasasti Singhasāri hanya menyebut waktu kematian Śrī Kṛtanagara, tanpa menyebut mengapa ia meninggal. Sebaliknya, prasasti Kudadu (11 September 1294) menyebut penyebab kematian Śrī Kṛtanagara, tetapi tidak menyebut kapan ia meninggal. Kalimatnya dapat kita temukan dalam lempeng III-B yang berbunyi:

  • śrī kṛtanagara sang līna ring śiwabuddhālaya ngūni tinĕkan de śrī jayakatyĕng sakeng glang-glang.
    = Śrī Kṛtanagara yang meninggal di alam Śiwa-Buddha dulu didatangi oleh Śrī Jayakatyĕng dari Glang-Glang.

Kemudian dalam lempeng VI-B terdapat kalimat:

  • śrī jayakatyĕng ngūni ri huwusnira n humilangakĕn śrī kṛtanagara gumĕgwan irikang nagara daha.
    = Śrī Jayakatyĕng dulu sesudah melenyapkan Śrī Kṛtanagara, memegang di negara Daha.

Dari kutipan prasasti Kudadu di atas, dapat kita simpulkan bahwa:

  • Śrī Kṛtanagara tewas diserang Śrī Jayakatyĕng dari Glang-Glang.
  • Setelah membunuh Śrī Kṛtanagara, Śrī Jayakatyĕng memegang Negeri Daha. Maksudnya ialah, menjadi raja di Daha.

Pertanyaan selanjutnya, di manakah lokasi Glang-Glang?
Dulu sebagian sejarawan sempat mengira Glang-Glang sama dengan Daha karena informasi dari naskah Pararaton yang berbunyi:

  • hana ta pasawalanira lawan sirāji jayakatong ratu ring daha, pinaka musuhira sirāji kṛtanagara.
    = Ada pertengkarannya dengan beliau Aji Jayakatong raja di Daha, sebagai musuh beliau Aji Kṛtanagara.

Jadi, menurut Pararaton, sejak awal Aji Jayakatong (Śrī Jayakatyĕng) sudah menjadi raja Daha. Hal ini diperkuat pula oleh naskah Nāgarakṛtāgama yang menyebut Jayakatwang sudah menjadi raja Kaḍiri (nama lain Daha) sebelum tahun 1292. Kalimatnya dapat kita temukan dalam pupuh XLIV, bait 2, yang berbunyi:

  • umunggwing bhūmi kaḍiri, ring śaka trīṇisanśangkara haji jayakatwang nātha wĕkasan.
    = berada di Bhūmi Kaḍiri, pada Śaka trīṇi-san-śangkara Haji Jayakatwang sebagai raja terakhir.

Sengkalan di atas bernilai:
trīṇi = 3
san = 9
śangkara = 11
Apabila dirangkai dari belakang, maka terbaca Śaka 1193 = 1271 Masehi.

Akan tetapi, pendapat bahwa Glang-Glang sama dengan Daha (Kaḍiri) terbantahkan oleh penemuan prasasti Mūla-Malurung (15 Desember 1255). Dalam lempeng VII-A dapat kita temukan kalimat:

  • sira turuk bali, putrī nira narārya smining rāt, pinaka parameśwarī nira śrī jayakatyĕng, sakṣat kapwanakanira narārya smining rāt, sira pinratiṣṭa ngkāneng maṇikanaka singhāsana, maka nagare glang-glang, sinewita dai nikang sakala bhūmi wurawan.
    = beliau Turuk Bali, putrinya Narārya Smining Rāt, sebagai permaisuri Śrī Jayakatyĕng, nyata-nyata keponakan Narārya Smining Rāt, beliau dilantik di atas takhta emas-permata, di Negeri Glang-Glang, dipertuan oleh segenap Bhūmi Wurawan.

Kemudian dalam lempeng IV-B dapat kita temukan kalimat:

  • sang apañji singanambat, apatih i wurawan, amangku kaprabhūniraji jayakatyöng.
    = Sang Apañji Singanambat, patih di Wurawan, memangku keprabuan beliau Aji Jayakatyöng.

Dari sini kita memperoleh informasi bahwa Glang-Glang sama dengan Wurawan, karena berlokasi di Bhūmi Wurawan. Sementara itu, Daha adalah negeri lain yang berlokasi di Bhūmi Kaḍiri, yang dapat kita temukan dalam lempeng VII-B, berbunyi:

  • sira narārya mūrdhaja, atmaja nira muwah, sira śrī kṛtanagara nāma nira ning abhiśeka, pinasangakĕn ngkāneng maṇikanaka singhāsana, ring nagara daha, sinewita ning bhūmi kaḍiri.
    = beliau Narārya Mūrdhaja, putra beliau (Narārya Smining Rāt) pula, beliau Śrī Kṛtanagara adalah nama penobatannya, dipasang di atas takhta emas-permata di Negeri Daha, dipertuan di Bhūmi Kaḍiri.

Negeri Daha yang berada di Bhūmi Kaḍiri pada zaman sekarang menjadi Kota Kediri di Jawa Timur. Sementara itu, Negeri Glang-Glang yang berada di Bhūmi Wurawan pada zaman sekarang kiranya menjadi Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Jadi, Daha dan Glang-Glang adalah dua negeri yang jelas-jelas berbeda. Daha berada di Bhūmi Kaḍiri yang terletak di sebelah timur Gunung Wilis, sedangkan Glang-Glang berada di Bhūmi Wurawan yang terletak di sebelah barat Gunung Wilis.

Kesimpulan:

  • Prasasti Mūla-Malurung (15 Desember 1255) ditulis saat Narārya Mūrdhaja alias Śrī Kṛtanagara (putra raja) masih menjabat sebagai raja bawahan di Daha yang berlokasi di Bhūmi Kaḍiri. Adapun Śrī Jayakatyĕng (menantu dan keponakan raja) menjabat sebagai raja bawahan di Glang-Glang yang berlokasi di Bhūmi Wurawan.
  • Prasasti Kudadu (11 September 1294) menyebut Śrī Kṛtanagara raja Tumapĕl meninggal karena diserang Śrī Jayakatyĕng dari Glang-Glang. Kemudian Śrī Jayakatyĕng dikisahkan membangun pemerintahan di Negeri Daha.
  • Prasasti Singhasāri (27 April 1351) menyebut Śrī Kṛtanagara meninggal sekitar bulan Mei-Juni 1292.
  • Penulis Pararaton mengira Aji Jayakatong sudah menjadi raja Daha sejak awal, yaitu sebelum membunuh Śrī Kṛtanagara. Begitu pula dengan penulis Nāgarakṛtāgama (Mpu Prapañca) juga memperoleh informasi bahwa Haji Jayakatwang menjadi raja Kaḍiri (Daha) sejak 1271.
  • Prasasti Kudadu hanya berselang dua tahun setelah kematian Śrī Kṛtanagara, sehingga beritanya lebih valid daripada Nāgarakṛtāgama yang berselang 73 tahun, ataupun Pararaton yang ditulis sekitar dua abad setelah Kerajaan Singhasāri runtuh.

Itulah uraian jawaban tentang pertanyaan yang sering muncul menjadi pertanyaan, semoga tulisan ini dapat menjadi bahan masukan dan menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi kita semua, masyarakat Indonesia yang ingin mengetahui tentang sejarah Nusantara, yang kini telah bertransfirmasi menjadi Bangsa Indonesia. (Heri Purwanto/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *