Beritain.co | Kota Depok – Disebuah pertemuan yang saya juga berada di dalamnya, seorang peserta yang menurut dugaan saya terdidik dan cukup banyak belajar. Beberapa kali dia berpendapat, ya memang begitu seharusnya. Tetapi entah kenapa saya tidak nyaman setiap kali dia berbicara. Usut punya usut ternyata ada satu hal yang membuat saya tidak nyaman dan geli, ketika orang itu bicara, dia menggunakan kalimat campur aduk seperti gado-gado bahasa Indonesia dan Inggris. Saya memahaminya karena mungkin dia memang sedang belajar bahasa Inggris atau memang susah mencari padanan kata Inggris itu dalam bahasa Indonesia.
Gangguan itu lebih bising lagi karena setelah lama saya perhatikan dua alasan itu tampaknya tidak menjadi signifikan dalam penggunaan istilah-istilah dalam bicaranya. Setidaknya ada satu kata yang masih saya ingat terus sampai sekarang, bahkan menjadi teror pada diri saya. Kata itu adalah sounding, dan parahnya orang itu memberi imbuhan dan akhiran juga kadang-kadang menjadi disoundingkan dan menyondingkan.
“Saya kira, apa yang kita bicarakan tentang persoalan-persoalan ini dapat disoundingkan juga ke pihak-pihak yang bersangkutan,” itu salah satu kalimatnya.
Bahkan;
“Baiklah nanti saya yang akan menyoundingkan ini kepada departemen tersebut,”
Atau;
“Ya, biar masalah ini saya akan soundingkan ke yang lainnya,”
Tampaknya sounding menjadi begitu laris dalam pembicaraan kali itu. Apakah sounding dalam kalimat-kalimat tersebut memang tidak bisa dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia? Mutlak sekali tidak. Dalam kalimat-kalimat diatas disoundingkan atau menyoundingkan atau sounding dengan mudah dapat kita cari padanan katanya sebagai ‘disuarakan’ bisa juga ‘disampaikan’ atau ‘menyuarakan’ bisa juga ‘menyampaikan’ atau ‘suarakan’ bisa juga ‘sampaikan’. Mudah kan?
Bukannya saya begitu mencintai bahasa Indonesia. Bukan itu persoalannya. Tetapi kenapa kita tidak mau menjadi kaya dengan bahasa kita sendiri. Setidaknya jangan terlalu genit dan sok inggrisan, dengan memakai kata yang jelas sekali ada padanannya dalam bahasa Indonesia, bahkan memaksakannya. Itu merusak pikiran.
Setelah saya amati memang ternyata banyak sekali kata yang begitu saja digunakan. Memang tampaknya semua orang juga menikmatinya, juga menggunakannya. Silih berganti, dan semua paham dengan manggut-manggut. Bahkan saya pikir banyak juga perbendaharaan kata lain yang digunakan seperti diaddress, at least, dan banyak lagi. Pertanyaannya kenapa orang-orang yang terlibat dalam pembicaraan mampu mengikutinya dan paham?
Dikatakan Ludwig Wittgenstein (1889-1951), bahwa apa yang disebutnya dengan language game. Permainan bahasa, begitu saja saya terjemahkan, menurutnya adalah perwujudan kongkrit aktifitas sosial yang dengan susah payah menggunakan bentuk-bentuk khusus dalam bahasa.
Dengan deskripsi variasi yang tidak terhitung dari permainan bahasa -tidak terhitung cara bahasa secara nyata digunakan dalam interaksi manusia- Wittgenstein memaknainya dengan menunjukkan ‘bahasa bicara adalah bagian dari aktifitas, atau bentuk dari kehidupan’. Arti dari kata, kemudian, bukan sekedar obyek yang sesuai tetapi lebih digunakan dalam ‘arus kehidupan’. Jadi begitulah kenapa disoundingkan menjadi dapat dipahami dan terus-menerus digunakan.
Rumit sebenarnya tetapi tampaknya begitulah yang terjadi dalam keseharian, penggunaan bahasa yang sedemikian itu tidak lagi menjadi masalah besar. Pragmatisme pun tampaknya telah merambah dalam hal berbahasa atau mungkin inilah yang disebut gaya hidup yang modernisasi.
Karena hidup di tengah-tengah orang yang selalu menggunakan cara berbahasa campur aduk, sehingga menyesuaikan diri menjadi penting dilakukan. Kebangkrutan bahasa Indonesia harus disadari sebagai bagian dari apa yang dibangun oleh penggunanya. Ide ini ditulis hanya sekedar untuk menyoundingkan apa yang ada di kepala saya. Semoga juga bisa disoundingkan ke yang lain-lainnya.
Sumber; Wibowo/Maidi
