Profile Garis Pengabdian Komjen Nanan Soekarna

Media Beritain | Kota Depok – Mengawali Karier dari Kapolsek Sepatan hingga Menjadi Alumni Terbaik Akpol 1978 dan Motor Penggerak Budaya Antikorupsi Polri, Inilah Garis Pengabdian Komjen Nanan Soekarna.

Menakhodai agenda reformasi birokrasi di tubuh institusi penegak hukum, menanamkan nilai-nilai integritas di tingkat akar rumput, serta mengawal tata kelola perguruan tinggi negeri pasca-purnatugas membutuhkan figur pemimpin yang visioner, berprinsip teguh, dan memiliki komitmen moral yang tinggi.

Di tengah tuntutan publik akan hadirnya sosok polisi yang bersih dan profesional di awal era 2000-an, rekam jejak kepemimpinan yang berani membuat gebrakan sangat dibutuhkan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Karakter pemimpin yang cerdas, berintegritas, sarat pengalaman internasional, serta adaptif dalam pengabdian inilah yang melekat kuat pada diri Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Nanan Soekarna.

Lahir di Purwakarta, Jawa Barat, pada 30 Juli 1955, Nanan Soekarna meniti jalan kepolisiannya dengan catatan prestasi yang sangat gemilang. Beliau berhasil menyelesaikan pendidikannya di Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1978 dengan predikat lulusan terbaik dan berhak menyematkan penghargaan prestisius Adhi Makayasa.

Kepakaran dan wawasan intelektualnya terus diasah melalui berbagai jenjang pendidikan kedinasan yang tinggi, mulai dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 1986, Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) pada tahun 1995, Sesko Gabungan pada tahun 1999, hingga Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) pada tahun 2005. Di samping itu, kapasitas taktisnya juga diperkaya oleh pengalaman internasional saat beliau terpilih untuk dibina langsung oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) di South West, Virginia, Amerika Serikat.

Awal karier atau titik rendah perjuangan beliau di lapangan dimulai dengan merayap dari bawah saat memimpin wilayah terkecil sebagai Kapolsek Sepatan di bawah wilayah hukum Polda Metro Jaya sejak tahun 1978 hingga 1980. Pengalaman di basis teritorial paling bawah ini menjadi modal berharga ketika beliau mulai dipercaya memegang berbagai posisi strategis di bidang reserse dan staf, seperti Kabag Serse Polwil Bojonegoro (1990), Wakapolresta Kediri (1992), hingga kembali ke ibu kota sebagai Koorspripim Polda Metro Jaya (1995) dan Kapolres Metro Jakarta Timur (1996). Ketajaman manajerialnya kian teruji saat menjabat sebagai Kepala Direktorat Serse Polda Kalimantan Timur (1997) dan dipercaya memimpin wilayah kelahirannya sebagai Kapolwil Purwakarta (2000) serta Kapolwil Bogor (2001).

Titik balik kepemimpinan beliau yang mencuri perhatian publik nasional terjadi pada tahun 2004 saat dilantik menjadi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Barat. Di tanah Borneo tersebut, Nanan Soekarna membuat langkah fenomenal yang mendobrak kebiasaan lama. Beliau menginstruksikan seluruh jajaran personel kepolisian di daerahnya untuk mengenakan pin bertuliskan “Saya Polisi Antikorupsi”.

Gerakan moral ini menjadi sebuah pernyataan sikap yang tegas sekaligus menjadi cikal bakal citranya sebagai jenderal yang bersih dan bertekad kuat membenahi sektor internal kepolisian. Setelah itu, beliau sempat dipercaya menjabat sebagai Sekretaris NCB Interpol Indonesia (2002) dan Wakil Kapolda Metro Jaya (2003).

Namun, perjalanan karier seorang perwira tinggi tidak selamanya berjalan mulus tanpa badai. Ujian kepemimpinan terberat menimpa beliau kala menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara pada periode 2008–2009. Insiden unjuk rasa anarkis menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli yang berujung pada meninggalnya Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz Angkat membuat beliau harus ditarik ke Mabes Polri demi menjaga kondusivitas wilayah. Sesuai prinsip ksatria seorang Bhayangkara, beliau melewati fase sulit tersebut dengan penuh kepatuhan organisasi, menjabat sebagai Koorsahli Kapolri sebelum akhirnya kembali melejit berkat integritasnya yang dinilai bersih.

Kepercayaan Mabes Polri pulih total saat beliau ditunjuk sebagai Kepala Divisi Humas Polri (2009) dan dipromosikan menjadi Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri pada tahun 2010. Pada tahun yang sama, beliau sempat menjadi salah satu kandidat kuat calon Kapolri untuk menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Meskipun tongkat komando tertinggi akhirnya diserahkan kepada rekan satu angkatannya, Jenderal Timur Pradopo, Nanan Soekarna tetap menunjukkan loyalitas mutlak kepada negara.

Puncak karier kedinasannya diraih pada 1 March 2011 saat beliau resmi dilantik menjadi Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), mendampingi Jenderal Timur Pradopo hingga beliau memasuki masa purnatugas pada 1 Agustus 2013 dengan pangkat bintang tiga penuh.

Pengabdian beliau nyatanya tidak pernah padam pasca-menanggalkan seragam dinas kepolisian. Integritas dan kapabilitas manajerialnya yang tinggi diakui secara luas di dunia pendidikan tinggi nasional.

Beliau dipercaya mengemban amanah strategis sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Pendidikan Indonesia (MWA UPI) untuk periode 2025–2030, sekaligus terpilih menjadi Wakil Ketua Forum Majelis Wali Amanat Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) se-Indonesia untuk periode 2025–2026.

Perjalanan hidup Komisaris Jenderal Polisi Nanan Soekarna mewariskan keteladanan yang mendalam mengenai arti penting sebuah integritas: bahwa prestasi tertinggi dan penghargaan Adhi Makayasa sejati bukanlah sekadar trofi saat kelulusan, melainkan sebuah komitmen moral yang terus dihidupkan, diuji lewat badai di lapangan, dan didedikasikan sepenuhnya demi kemajuan bangsa melalui hukum dan pendidikan.

#NananSoekarna #Wakapolri #AdhiMakayasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *