Beritain.co | Agar tidak terus merugi, santer terdengar dua startup terbesar ride hailing yakni Gojek dan Grab dikabarkan akan melakukan merger dan telah mendapatkan restu dari salah satu investor yakni pendiri Softbank, Masayoshi Son. Ini adalah tentang sejumlah pemegang saham berpengaruh jangka panjang di kedua perusahaan yang ingin membendung kerugian atau mencari jalan keluar dari investasi mereka,” kata salah satu investor Grab,(September 2020).
Investasi SoftBank di banyak startup rugi besar. Pada tahun fiskal 2019 kerugian SoftBank mencapai 17,7 miliar dolar AS. Kerugian itu diderita Vision Fund, venture capital milik SoftBank, setelah melakukan hapus buku nilai investasi di WeWork dan termasuk Uber Technologies Inc. (September 2020)
Meituan-Dianping, salah satu investor Gojek, harus rela kehilangan kapitalisasi pasar US$ 38,96 miliar atau Rp 553,33 triliun (kurs Rp 14.200) dalam dua minggu terakhir, ketika Beijing melakukan pengawasan pada raksasa pengiriman makanan China (Mei 2021).
CEO Gojek, Kevin Aluwi, mengaku layanan jasa transportasi yang menjadi andalan perusahaannya mengalami penurunan hingga di atas 50 persen. Penurunan ini terjadi sejak beberapa bulan pertama virus corona mulai menyebar di Indonesia (Januari 2021).
Investasi Telkomsel di Gojek sebesar US$ 300 juta dinilai pengamat pasar modal sudah tepat. Kini, total investasi anak usaha Telkom ini sudah menjadi US$ 450 juta atau setara Rp 6,39 triliun (asumsi kurs Rp 14.200) (Mei 2021).
TANAM MODAL DI PERUSAHAAN YG TERUS MERUGI ?
Mudah mengotak atik Anak Perusahaan BUMN karena hanya diaudit secara internal (Bukan oleh BPK). Sedangkan Menteri BUMN mengelola aset sekitar 8000 Triliun.
Ketika BUMN & Anak perusahaan merugi dikarenakan investasi yg serampangan, dan dikatakan dengan mudah itu adalah biasa dalam bisnis. Bussiness Loosses. Tapi para Pejabat BUMN & Anak perusahaan bertambah kaya. Memperoleh Fee besar atas pengkhianatan – pengkhianatan & pengabdian kepada Global Capitalist, memindahkan modal bagi kepentingan Gombal Kapitalis
Inilah yg terjadi dalam banyak BUMN & anak perusahaannya. Kita patut mengkhawatirkan ini terhadap Divestasi Freeport oleh Inalum. (sedang menunggu laporan keuangan Pemerintah Pusat 2020).
Polemik Abdi, radikalisme, kejahatan Transnasional berbau Agama akan tetap dihembuskan kepada rakyat. Rakyat berpolemik terhadap isu yg tidak esensial. Dikecohkan, agar rakyat tidak mengendus kejahatan Transnasional yang sebenarnya. (AA)
