Pelantikan Jenderal Soedirman

Beritain.co | Kota Depok – 27 Juni 1947 (74 tahun yang lalu) Jenderal Soedirman diangkat resmi oleh Presiden Soekarno sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Yogyakarta. Ini merupakan peristiwa dan catatan sejarah penting yang terjadi di dalam negeri. Beliau diangkat oleh Presiden Soekarno dalam upacara militer sederhana bertempat di istana negara di Gedung Agung Yogyakarta. Siapakah Soedirman ?

Ia adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, sebagai panglima Tentara Keamanan Rakyat yang pertama, ia adalah sosok yang dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di kota Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin, ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang diadakan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.

Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, serta dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Agama Islam. Setelah berhenti pendidikan keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah, ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar, pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, kemudian menjabat sebagai komandan batalion di Kroya Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, terhadap Jepang hingga kemudian diasingkan ke Bogor. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober 1945 oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut.

Pada tanggal 12 November 1945. Dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara sekutu menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar TRI pada tanggal 18 Desember.1945.

Kemudian seperti disebut diatas sebagai Panglima TNI pada 27 Juni 1947, tidak lama kemudian pada 21 Juli 1947, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, setelah persetujuan Linggarjati yang telah di teken di langgar yang dilanjutkan Agresi Militer Belanda pertama (21 Juli 1947), Soedirman memimpin pasukannya dalam perang gerilya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *