Diterjemahkan berdasarkan catatan Jurnal John Anderson. Dalam buku : Mission To The East Coast Of Sumatra 1823.
23 Januari 1823 —
Pada malam hari ada 3 orang yang mengendus – endus di bawah tempat tidurku, mencoba membuat lubang di dinding yang hanya terbuat dari keramik tipis. Begitu mereka ketahuan, mereka melarikan diri dengan cepatnya. Pengawalku sudah bertugas dengan bagusnya.
Aku terus terjaga sepanjang malam dikarenakan satu dari putra tuan rumahku melantunkan dongeng yang puitis. Di mana banyak orang di dekatnya yang mendengarkan dengan rasa senang. Suaranya lembut dan musikal, dan pelafalannya sangatlah menyenangkan.
Juru tulisku dan seorang utusan yang meninggalkan tempat ini 2 hari yang lalu pergi ke Soonghal belum kembali. Aku terpaksa menunggu Pimpinan yang dari Kullumpang.
Sepanjang hari ini, hujan pun turun dengan derasnya. Begitu cuaca cerah, aku pergi ke desa sebelah, Pangkalan Bulu, untuk mengunjungi Pemagang Haji. Jaraknya relatif tidaklah jauh dengan berjalan kaki. Tetapi jalanannya hanyalah sekumpulan lumpur dan air. Di mana kakiku tenggelam hampir selutut. Oleh karena itu, aku lebih suka naik perahu, meskipun cukup sulit untuk melawan arus kuat di kanal sempit yang dibuat beberapa tahun lalu, yang mana air mengalir seperti pintu air. Penduduk di sini memang lebih memilih mengarungi sungai sejauh 300 atau 400 yard ketimbang berjalan di jalan setapak yang sejauh 200 yard.
Kami melihat beberapa anak laki-laki yang mengenderai kuda – kuda kecil. Berpacu ke sungai dengan kecepatan tinggi, dan bermain air ke sana kemari. Kuda – kuda itu sepertinya terlatih untuk pacuan.
Aku menembak seekor burung biru yang indah, dengan paruh kuning, disebut purling, yang berkicau sama persis dengan burung hitam. Juga beberapa jenis Merpati, Balum dan Punci, yang jumlahnya sangat banyak, dan enak untuk dimakan. Barow – barow yang berwarna kuning cantik juga berkicau seperti burung hitam. Dan penduduk di sini memberitahu burung ini bisa diajari berbicara.
Kucing sepertinya adalah hewan lokal yang paling banyak. Yang sepertinya kucing Melayu asli, dengan ekor yang melingkar, berbadan besar dan kuat, dan ahli menangkap tikus.
Aku perhatikan Di setiap pondok para wanita bekerja dengan rajin, memukuli padi, membuat pembungkus rokok, memintal, dan mewarnai.
Dari daun Nenas yang tumbuh liar sangat banyak di hutan, mereka membuat benang halus yang kadang-kadang digunakan untuk menggantikan Sutra.
Setiap bahan yang dibutuhkan dan bahan langka bisa diperoleh di negeri ini. Yang sumber daya alamnya memiliki banyak keunggulan. Dan sangat bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih besar. Namun, kebiasaan bersantai dari penduduk di sini adalah kendala untuk pengembangan.
Mereka mendapatkan nafkah dengan mudah atau tanpa kerja berat. Dan menghabiskan kebanyakan waktu dengan tidur dan bermalasan, menghisap maddat (candu) dan sebagainya. Akan tetapi, di sini kebiasaan menghisap opium tidaklah lazim sebagaimana di Soonghal. Di mana aku lihat hampir setiap orang memakai obat bius yang merusak ini.
Menjelang sore, tiga pedagang ( orang Battas) datang. Mereka baru saja melakukan perjalanan menyeberang dari wilayah Langkat. Yang merupakan daerah yang berhubungan baik dengan Soonghal. Mereka berasal dari suku Karau Karau. Dan berpakaian buatan pesisir yang seluruhnya berwarna biru yang disebut mureh dan chelopan ( murah & celupan ?? ). Di mana setiap tahun diimpor oleh para Chooliah dalam jumlah besar. ke Pinang.
*Hampir semua orang Battas yang kulihat di sini mengenakan pakaian ini. Dan beberapa memiliki bajoo atau jaket Eropah yang berbahan chintz ( tenun india red ) atau kain putih. Belakangan ini mereka sangat ingin memakai pakaian Eropah, tapi keterbatasan sarana tidak memungkinkannya.
Pada kwartal ini perkebunan lada tumbuh lagi dengan suburnya dan berbuah dengan cepat. Hasil bumi mereka ini akan memberikan daya beli yang cukup bagi mereka untuk membeli baju – baju yang mereka inginkan.
Berdasarkan apa yang aku lihat, aku tidak meragukan, dan sedikit membuktikan bahwa permintaan terhadap chintz Eropa ( tenun india red. ), maddapollam ( katun red. ), muslins ( katun iraq red. ) dan sapu tangan akan meningkat. Permintaan terhadap barang-barang ini ke depannya akan menjadi besar dan penjualannya meluas.
Aku melewati dua gereja tua yang sudah lapuk di Pangkalan Bulu. ( Anderson menggunakan istilah church utk menyebut mesjid & mushola, tapi ada juga menggunakan sebutan Misgid. Jadi kita tidak pasti, apakah yg ia lihat ini Gereja atau Mesjid red ). Di dekatnya ditanam berbagai aneka macam pohon salam, disebut mas mas. Yang digunakan untuk upacara pemakaman mereka, dan yang biasanya ditanam di sekitar makam orang mati. Seorang dari Battas ini cacat sumbing. ( Ini kalimat yg mungkin salah peletakkan alinea. Mungkin semestinya pada alinea yang ditandai * di atas. Catatan Anderson orisinil tentu dituliskan dengan tangan red. ).
23 Januari 1823, bagian 2 —
Aku sudah sangat tidak sabar dalam menunggu kedatangan Pemimpin muda. Walaupun Pemegang Haji agak keberatan atas perjalananku mengelilingi Negeri ini, aku bertekad untuk mengambil risiko apa pun, dengan sekelompok prajurit India ini ( Naick ), 6 orang sepoy, 6 orang laskar, Mr. Brown, dan juru gambar. Pemagang Haji tidak jadi datang menemuiku pagi ini, karena sudah membuat janji, aku pergi ke rumahnya sekitar jam 7.
Kami melewati lumpur yang tingginya selutut. Seorang anak laki-laki dengan menunggang kuda menuntun kami untuk menunjukkan kanal sungai. Dan orang-orangku menyeret Kano dengan sekuat tenaga ketika melewati perairan yang dangkal. Akibatnya mereka sudah kecapaian sebelum memulai perjalanan.
Pemagang Haji menerangkan bermacam rintangan terhadap perjalananku. Seperti jalan yang buruk, dan bahaya serangan dari para Bandit. Dan bisa saja di jalanan setapak orang-orangku akan terkena oleh ranjau yang berpeluru bambu yang diruncingkan
Namun, kami tetap berangkat dari Pangkalan Bulu sekitar pukul 8 pagi. Melewati desa Kallambir dan Dangla yang terletak di tepi sungai yang tenang. Dan mencapai Kullumpang, kediaman Sri Sultan Ahmet ( Ahmad red. ) sekitar pukul 4.
Di tengah perjalanan kami melewati lumpur dan air. Banyak tanaman padi yang tingginya melebihi kepala kami setinggi 2 atau 3 kaki, hujan pun turun. Dan karena jalurnya sempit, kami benar-benar basah kuyup. Di tempat lainnya, kami melewati jalan setapak dengan semak berduri di kedua sisinya, dan wajah dan tangan kami penuh goresan.
Aku mengganti pakaian di tepi sungai, setelah membasuh darah karena gigitan lintah kecil yang menempel di kakiku. Matahari kemudian bersinar sangat terik sepanjang hari. Dan aku berpikiran mungkin jumlah darah yang disedot oleh lintah dapat mencegah sakit demam, atau malah berdampak buruk jika terkena sinar matahari yang begitu terik.
Sudah terlalu sore untuk melanjutkan perjalanan, dan karenanya kami berhenti untuk bermalam. Oleh karena, perlu memberitahukan kepada ‘Orang Kaya’ Soonghal tentang kedatangan kami. Aku mengutus Juru tulisku ditemani oleh seorang pemandu dengan mengenderai kuda. Tapi tak lama kemudian mereka sudah kembali, setelah bertemu dengan beberapa orang dari ‘Orang Kaya’, yang memberitahukan bahwa dia ( Orang Kaya ) bersedia menerima kedatanganku.
Saat kami mendekati desa, orang-orang baru saja memanen padi, yang dipetik dengan sangat cepat dan dikumpulkan dalam tumpukan kecil berbentuk Ricks, seperti kita menumpuk gandum di Inggris. Masing-masing berisi sekitar 2 hingga 5 coyan. Dan puncak atasnya ditutupi dengan topi jerami dan rangkaian bunga, menampilkan efek pedesaan.
Padi di sini sama seperti di Delli, sangat panjang, dan bulir – bulirnya besar. Berbagai macam semak yang berbunga mengelilingi rumah. Ada banyak juga pohon buah-buahan, terutama Pisang raja dan Pepaya yang besar – besar & rasanya terenak kurasa.
Merica anggur yang ada di sekeliling rumah juga berada di lahan yang baik dan mereka baru saja mulai memetiknya. Beberapa tanaman merica merambat di tiang-tiang kering, dan lainnya pada pohon bangkudu.
Pada siang hari, nyamuk sangatlah banyak di hutan, sehingga perjalanan menjadi sangat tidak nyaman. Jika kami berhenti sebentar saja, akan banyak yang segera menyerang.
Kami melihat beberapa kawanan kerbau, dengan ukuran yang sangat besar. Yang lebih gemuk dan tampak dipelihara lebih baik daripada sapi jantan yang pernah aku lihat di pasar Smithfield ( Pasar Inggriskah ?? ). Kerbau yang sangat liar, dan segera menjauh saat kami mendekat, tampaknya khawatir pada mantel warna merah para prajurit.
Jejak gajah, harimau, dan babi, terlihat sangat banyak di jalur perjalanan. Dan kami melihat tanda-tanda keberadaan dari kawanan gajah yang besar telah melintasi dijalur yang kami lalui malam sebelumnya. Hewan-hewan ini tidur di siang hari, dan karena itu kami tidak khawatir akan diserang.
Di setiap rawa-rawa burung snipes yang sangat banyak ( jenis burung pantai red ). Dan muncul dalam sekawanan yang besar. Tidak kami tembak. Burung yang cukup jinak dan tak kenal takut.
Saat kami melewati desa Dangla, ada orang-orang baru saja menangkap rusa besar dengan jerat. Mereka membagikan kepada kami sedikit daging pada bagian yang baik dan lembut. Penduduk di sini biasanya memotong daging menjadi irisan yang sangat tipis dan dikeringkan di bawah sinar matahari.
Banyak orang Melayu merupakan penembak yang jitu. Yang banyak menembak rusa. Seorang pria di desa ini diperkenalkan kepada aku. Yang dapat membunuh burung besar di atas pohon dengan satu tembakan dan jarang meleset.
Kami tidak melihat banyak ular dalam perjalanan kami. Kami hanya membunuh satu ekor ular hijau yang cantik, yang disebut umbaka, panjangnya 3 kaki.
Spesies semut sangatlah beragam. Beberapa sebesar lebah. Dan semut merah besar yang jika menggigit berakibat parah. Yang sering jatuh dari daun pohon di atas orang yang sedang lewat. Serangga-serangga ini bersama dengan nyamuk, dan lintah kecil, ikut andil membuat perjalanan menjadi menderita dan tidak mengenakkan. Sementara matahari bersinar tepat di atas kepala kami yang menambah penatnya perjalanan kami.
Berikutnya aku akan memberikan penilaian pada tanaman sayuran yang perlu diperhatikan di hutan. Yang tampak mudah membudidayanya. Cabai kecil yang disebut mata burung, ada di mana – mana, tumbuh paling subur. Daun nilum (nilam ?), daun yang digunakan isi kasur & bantal, dan barang dagangan umum penduduk asli, sangat banyak. Kacang polong liar, banyak variasi, yang bunganya sangat lembut. Buah kecil berwarna kuning, disebut Trong asam, dengan kulit kasar, penuh biji kecil, dan rasanya mirip Gooseberry asam, agak enak dimakan di hari yang panas. Kami temukan dalam jumlah banyak & orangku memakannya banyak tanpa ada efek buruk apa pun karena asamnya. Lemon sangat banyak di hutan. Pohonnya tumbuh besar & buahnya sangat bagus.
Jambu biji juga tumbuh liar di hutan. Atau memang ditanam di sana. Atau karena disebarkan dan dibawa oleh burung-burung. Kami lihat banyak sekali pohonnya.
Pohon Abang Abang juga kelihatan banyak. Digunakan sebagai arang untuk bahan bubuk mesiu. Kami juga melihat banyak pohon Bankiri. Pohon kakumbo yang kulit kayunya digunakan sebagai pengganti seree, memiliki kualitas tajam. Dan kami temukan banyak Galingan atau Puting Malela yang daunnya digunakan untuk menyembuhkan cacar. Kami melewati banyak pohon Selaslas yang cantik. Tapi tidak melihat ada sarang di atasnya. Penduduk di sini memanfaatkannya. Kulit pohon ini sangat halus, dan berdaun sangat kecil. Jarang rantingnya di bawah 60 atau 70 kaki. Memanjatnya tentu sulit dan berbahaya. Pohon Benuang juga banyak. Daun Radudu, tanaman obat, juga umum. Pohon Anau sangat banyak, dan ukurannya sangat besar, dan banyak rotan & canes. Penduduk asli menggunakan Rotan besar yg di sini mudah diperoleh, disebut Chimmo. Untuk mengambil air dari sungai & menyeberang sungai. Bermacam bunga hias kecil & semak, seperti bunga Bachellor Button. & Eoxcomb. Dipinggiran juga banyak pohon bermanfaat & tanaman hias lainnya yg tidak sempat aku amati. Dan aku menyesal karena tidak memiliki ilmu botani memadai untuk menjelaskannya.
Keseluruhan perjalanan sangatlah menarik. Beberapa tempat di Hutan seperti taman. Tampaknya penduduk setempat telah membabat hutan. Ini sungguh ladang yang kaya bagi Naturalis.
Saat mendekati rumah Pimpinan Muda, Prajurit Sepoy memberi hormat dengan 5 tembakan musketry dan melakukan lagi dalam jumlah yang sama dengan berlutut. Penembakan tersebut menarik perhatian petani Melayu dan Batta di kebun lada dan padi di sekitar. Mereka mengira ada musuh yang datang. Dan datang bersiap untuk melindungi pemimpinnya dilengkapi dengan perlengkapan bela diri mereka. Dengan terburu dan tergesa-gesa mereka mendatangi. Mereka tentunya merupakan orang dari berbagai latar, dan tampak garang dan terbelakang. Mereka memperhatikan kami dengan aneh. Sultan muda keluar untuk menemuiku. Tapi karena tidak tahu tentang seremonial diplomatik & cara menyambut tamu Eropa (karena dia belum pernah melihat orang kulit putih ), dia menjadi malu. Timbullah kesopanan & pujian yang berlebihan. Saat aku melepas topi sebagai bentuk hormat, dia menarik tanjaknya dari kepalanya & memberikan salam yang serupa. Yang mana bertentangan dengan etiket orang Melayu. Mereka memberi hormat dengan menekuk 2 kali & hampir menyentuh kepala satu sama lain. Saling berpegangan tangan satu sama lain. Seperti bawahan yang menaruh kepalan tangannya ke tangan atasan, yang memberi tekanan pelan.
Sewaktu menyajikan Seree, mereka sangat seremonial. Sultan Ahmet adalah seorang pemuda yang baik, bijaksana, humoris. Terlebih sangat terbuka dan tidak gila hormat.
Sultan Ahmet orang yang ingin tahu & sangat ingin menggali informasi. Bersama gurunya, seorang Ulama Jawa yang pernah ke Mekah, dan yang mengajarinya membaca Alquran dan ilmu agamanya, menemaniku sampai tengah malam, sepertinya tidak akan mau disudahi. Hingga aku mengingatkannya tentang perjalanan melelahkan yang baru aku lakukan & aku membutuhkan istirahat.
Aku tidak melihat asap opium hari ini. Dan mereka yang aku fikir menyukainya, agak cenderung menyembunyikan kebiasaan buruk itu. Karena itu dipandang baik bagi mereka. Tapi paman Sultan muda, Tuanko Marim, tanpa basa-basi membawa pipa dan peralatan merokoknya & menggunakannya di sebelahku. Seperti orang Eropa yang menghisap Sisha atau cerutu. Dia seorang pria yang kurus kering dan tampak sakit-sakitan. Dan terlihat dahulunya seorang pecandu yang kemudian kini memberinya hal buruk. Dia terus menghisapnya hingga sekitar pukul 9. Sampai dia sudah terbius & sangat pusing hingga tidak bisa berjalan ke pintu tanpa bantuan. Dia bilang padaku bahwa dia memakai sebanyak 1 bola atau satu kati opium setiap tahun.
Aku memberikan oleh – oleh kepada Sultan Muda beberapa kain Eropa & air mawar. Begitu juga kepada pamannya. Surat dari tuan Gubernur juga diterima dengan hormat dan kesantunan, dan dibacakan dengan lantang di hadapan para pujangga.
Di sini, korespondensi melalui surat jarang dilakukan. Belumlah lama kami tiba, seorang utusan dengan 30 pengawal dikirim oleh Orang Kaya ‘Soonghal dengan pedang atau keris panjang yang indah, ditempa dengan ukiran emas. Dan menyampaikan bahwa Orang Kaya pergi mengambil haluan kapal di Bulu China. Karena nahkodanya baru wafat.
Sewaktu berbincang dengan beberapa orang yang baru saja datang, salah satu dari mereka memberi tahuku bahwa dia telah berdagang di pedalaman beberapa bulan sebelumnya & kehilangan seorang temannya yang terbunuh & dimakan oleh Battas di dekat danau besar. Karena dia memakai sarung pendek yang dianggap sangat tidak sopan & penghinaan bagi suku tertentu Battas. Mereka memakai pakaian mereka sampai ke bawah kaki. Battas di Kullumpang adalah dari suku Karau Karau. Mereka masing-masing membawa tas kecil di atas bahu mereka, berisi seree dan rokok mereka, atau cerutu kecil, terbuat dari tembakau shag, digulung dengan daun kering. Yang sangat banyak mereka gunakan. Jarang 1 menit pun tanpa itu di mulut mereka . Mereka meninggalkan istri dan anak-anak mereka di pegunungan untuk turun untuk menanam lada. Umumnya kembali sekali dalam setahun selama beberapa hari. Dengan hasil industri buahan mereka. Mereka sangat mirip dengan orang Cina dalam kebiasaan berhemat. Dan suka mengumpulkan uang. Mereka menjaga kebersihan kebun lada.
Sultan Ahmet memiliki kurang lebih 200 orang Battas yang bekerja tetap di kebunnya, dekat Kullumpang, yang tahun lalu menghasilkan 50 coyans atau 1300 pecul, dan jumlahnya meningkat setiap tahun. Dan sekarang sejumlah tanaman muda mulai tumbuh merambat secara bertahap. Kami perhatikan banyak perahu kecil yang hilir mudik di sungai, dan terlihat adanya kesibukan & perdagangan yang berbeda dari yang kami amati di Delli.
Rumah kecil tempat kami tidur yang biasanya digunakan sebagai aula pertemuan, terbuka seluruhnya. Dan sepanjang malam kami terkena embun tebal. Dan angin dingin yang menusuk. Ini dibangun di atas tiang-tiang yang ramping. Sekitar delapan kaki dari tanah, sangat lapuk, dan karena kelebihan beban, kami sempat berfikir bakal rubuh. Dan kami akan tertimpa oleh runtuhannya.
- selesai –
Keterangan Gambar :
Deskripsi ‘Sepoy’ dengan seragam dan senjatanya pada abad 19, yg mengawal perjalanan John Anderson tahun 1823 di Sumatera Timur. Sepoy adalah Tentara Profesional India yang dibentuk Inggris.
